RELEASE DOCUMENTS RELATING TO THE NATIONAL GOLD CORPORATION BILL 2022

"""'"""""""""""""""""&qu...

Showing posts with label koperasi papua. Show all posts
Showing posts with label koperasi papua. Show all posts

Tuesday 4 August 2015

Kondisi Koperasi Papua Suram

GATRAnews  -    Senin, 03 Agustus 2015 21:27

Jayapura, GATRAnews- Kondisi Koperasi Papua mengalami masa suram. Banyak koperasi di Papua yang jalan ditempat bahkan sudah gulung tikar. Dari 3000-an koperasi yang terdaftar di Papua, hanya ada 1754 koperasi yang aktif. Dari koperasi yang aktif itu, hanya ada 401 koperasi yang melakukan rapat tahunan.

“Jangan-jangan koperasi yang melaksanakan rapat ini koperasi plat merah. Ini harus dirinci dan didata baik, mana koperasi masyarakat dan mana koperasi plat merah,” kata Asisten II Sekda Provinsi Papua, Elia Loupatty dalam pembukaan seminar sehari koperasi di Papua menuju koperasi yang bangkit, mandiri dan sejahtera, Senin (3/8) di Jayapura.

Ditempat yang sama, Ketua Dewan Koperasi Wilayah Papua (Dekopinwil), Sulaeman Hamzah mengatakan saat ini koperasi yang masih aktif di Papua, rata-rata dikelola oleh kesatuan polisi dan TNI.

Sejumlah koperasi ini masih aktif, dikarenakan adanya komando kebawah dan anggotanya terkoordinir dengan baik. Namun, koperasi yang berada ditengah masyarakat justru sudah banyak yang keluar dari roh koperasi yang sesungguhnya.

Misalnya saja di pasar-pasar tradisional, banyak koperasi simpan pinjam yang mengatasnamakan koperasi, namun tak memiliki keanggotaan dan melakukan pinjaman orang per orang dengan bunga yang cukup tinggi.

“Padahal prinsip koperasi itu, disepakati oleh kedua belah pihak, pengelola maupun keanggotaannya. Tapi yang terjadi saat ini, malahan banyak oknum yang mengatasnamakan koperasi, tapi bunga pinjaman mencekik orang yang meminjam uang itu,” katanya.

Dulu, kata Sulaeman, ada penyuluh lapangan yang tergabung dalam koperasi. Entah itu di koperasi pedagang ataupun koperasi para petani.

Para penyuluh ini melakukan pemantauan langsung misalnya dengan kekurang pupuk, pasaran hasil kebun yang tak jalan dan lain sebagainya. Hasilnya sangat bagus dan menolong para petani atau pedagang yang ingin menjual hasil kebunnya.

Tapi saat ini, penyuluh lapangan tak ada dan keadaan semakin hari semakin merosot. Kedepan, Dekopinwil akan melatih putera asli Papua untuk mengelola koperasi sampai di tingkat distrik, minimal di ibukota kabupaten yang berada di pedalaman Papua.

Selanjutnya harus diikuti dengan proteksi untuk pelayanan sembilan bahan pokok menggunakan subsidi angkutan dan diharapkan masyarakat pedalaman dapat dilayani melalui koperasi dengan harga yang terjangkau.

“Kami sadar, bahwa di Papua lebih besar pengaruh budaya dan adat istiadat. Maka dari itu, dalam seminar ini diharapkan masukan dari semua pihak terkait untuk memformulasikan atau merumuskan koperasi di Papua,” jelasnya.

Monday 25 May 2015

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)

BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)

BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)

BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Yohakim Tekege: Perlunya Koperasi Perenehur bagi Masyarakat Papua

Bogor, Suara Kaido -Koperasi yang sedang berkembang di seluruh Nusantara seolah –olah menjadi usaha individu atau sekelompok orang .Semestinya, koprasi perenehur dibangun untuk merangkul masyarakat pada umumnya untuk membentuk karakter menjadi  wirausaha.

Hal itu disampaikan oleh Yohakim Tekege, Mahasiswa Papua Progaram S 2 di kota study Bogor disela-sela diskusi, diasrama Mahasiswa Paniai, Bogor, Senin, (25/11/13).

Kepada Suara Kaido, Yohakim mengatakan, Menurut pengamatan saya masyarakat asli papua menjadi konsumtif abadi sementara peluang-peluang pasar di monopoli oleh kaum borjuis,”Ujarnya

Lanjut Tekege, “Saya berharap dibidang ini, perlu dijadikan kurikulim pendidikan untuk diterapkan  menjadi sebuah mata pelajaran agar bisa menjadi wirausaha yang handal dan profesional pada masa yang mendatang, “Harapnya.

Namun. Lanjunnya,  agar dapat membuka wawasan berwirausaha bagi siswa/i atau generasi mudah secara teori sebab perluh dipahami sejak dalam proses sekolah

Sebab selama ini banyak generasi Papua berlombah-lombah menjadi PNS, sedangkan bidang Wirausaha di dominasi oleh non-Papua,” Jelasnya.

“Oleh sebab itu,  mau dan tidak mau harus di kurikulumkan oleh Dinas Pendidikan Provissi Papua.

Selain itu, perlu mendirikan koperasi di papua baik di perkotaan maupun kampung-kampung dan pesisir serta pegunungan papua untuk mengatasi konsumerisme di papua melalui instansi terkait,”Tegas Tekege.

“Saya menyatakan hal ini, karena saya perna mencoba mendirikan Koperasi di Wilayah Kabupaten Deiyai, tepatnya di kampung Damabagat.  Dan selain itu, di Kabupaten Paniai, di Kampung Komopa.

Namun, diharapakan kepada Pemerintah Provinsi Papua perlu menjadi fasilitator, untuk bantu berupah alat-alat kerja, bibit-bibit tanaaman, yang bias produksi sendiri oleh masyarakat.

“Demi membangun masyarakat Papua mandiri diatas tanah-Nya sendiri,”Pungkas Wirausaha asal Papua itu.

Sebab. dengan adanya bantuan-bantuan danayang  dikucurkan tapan ada pengawasan oleh pihak Pemda, pada akhirnya masyarakat di Papua terbentuk ketergantunga, sehingga daya juang semaking hari semaki melemah.

Oleh karena itu  diharapkan kepada Pemerintah Daerah perlu membangun Sumber Daya Manusia di Papua dalam bidang wirausaha.Demi menyelamat orang Papua pada masa yang mendatang.(Marthen Yeimo/SK)
BERITA TERKAIT: SEMINAR DAN DISKUSI

Wednesday 30 July 2014

KSU Baliem Arabica Unit Simpan Pinjam "Papua Bangkit" didirikan Tanggal 29 Juli 2014

Diumumkan kepada seluruh masyarkaat Papua, khususnya mahasiswa Papua, secara khusus lagi Mahasiswa Papua di Kota Studi Yogyakarta bahwa

Pada hari ini tanggal Rabu 30 Juli 2014, telah didirikan Sebuah Unit Usaha Simpan Pinjam bernama "Papua Bangkit"

Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica sebagai sebauh badan usaha milik rakyat, terutama suku-suku di Tanah Papua menyatakan dengan bangga bahwa cita-cita untuk membantu mahasiswa Papua di pulau Jawa kini sudah mulai terbukti lewat perjuangan dan kerja keras dari PAPUAmart.com dan BANANALeafCafe.biz yang sejak tahu 2013 dibentuk dan ditugaskan oleh KSU Baliem Arabica untuk membuka segala peluang usaha di Tanah Jawa lewat wadah koperasi.

Rapat dihadiri oleh pimpinan 8 Unit usaha yang telah dibentuk selama ini oleh PAPUAmart.com, yang kini telah bergerak dengan berbagai kegiatan usaha.

Motto Unit Simpan Pinjam ini ialah

MANDIRI untuk MEMBERI!

Diharapkan dengan pembentukan Unit Usaha Simpan Pinjam ini banyak anak-anak Papua yang selama ini terkendala karena pengiriman uang yang terlambat dari orang tua atau pemerintah daerah masing-masing akan ditanggulangi.

Menurut pengurus PAPUAmart.com, langkah ini kami ambil berdasarkan analisis usaha yang kami lakukan selama setahun lamanya, dan kami temukan banyak mahasiswa Papua mengalami permasalahan pada saat tiba waktunya untuk membayar uang SPP. Padahal mereka sudah terdaftar, sudah bayar uang kontrakan, sudah beli buku dan kendaraan untuk melancarkan kegiatan kuliah, tetapi selalu tertunda karena pembayaran SPP menjadi terlambat. Menurut Jhon Kwano dari PAPUAmart.com,
Anak-anak di sini terkendala bukan karena mereka tidak mau bayar atau tidak sanggup bayar, tetapi karena terjadi keterlambatan. Terlamba beberapa minggu saja bisa berakibat cuti satu semester. Jadi pembayaran pada saat-saat kritis ini yang kami anggap perlu ditanggulangi.
Masih menurut Kwano lagi,

Jadi dalam rapat tadi sudah disepakati bahwa untuk pertama kali, kami mulai dengan peminjaman untuk pembayaran SPP saja. Untuk kebutuhan lain kami tidak tangani. 

Ditanyakan bagaimana kalau mahasiswa itu sakit keras dan harus dipulangkan dan atau kalau ada mahasiswa Papua yang meninggal, kembali Kwano menegaskan,

Ada banyak lembaga, paguyuban dan pemerintah juga ada untuk menangani situasi darurat, kami hadir bukan itu. Kami hadir dengan misi jangka panjang, membangun manusia Papua, jadi kita bagi tugas, ada yang urus ini dan itu, kami fokus urus kendala pembayaran SPP yang selama ini kami sendiri sudah pernah alami waktu kami kuliah di kota ini.

Dengan terbentuknya Unit Usaha KSU Baliem Arabica ini diharapkan anak-anak Papua yang berstudi di Yogyakarta akan dibantu sehingga tidak ada yang menjadi cuti kuliah atau lainnya hanya gara-gara keterlambatan pembayaran SPP.

Saturday 20 July 2013

Hampir Separuh Koperasi di Papua Tak Aktif

TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini terdapat 2.483 koperasi yang ada di seluruh wilayah Provinsi Papua. Namun, hanya 1.460 koperasi yang aktif, sedangkan sisanya sebanyak 1.023 koperasi tidak aktif. Artinya, sekitar 45 persen koperasi di Papua tidak aktif dan perlu dibenahi agar tidak bubar dengan sendirinya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Papua, Kaleb Worembay berjanji koperasi yang membutuhkan bantuan akan segera ditangani. Secara umum, koperasi di Papua pertumbuhan dari aspek kuantitas meningkat, tapi yang bermasalah juga jumlahnya bertambah.

"Tugas pemerintah itu membina. Tapi kalau sudah tak memungkinkan lagi dibina, maka bisa saja koperasi bubar sendiri. Koperasi itu dibentuk masyarakat, sehingga mereka sendiri yang bubarkan. Sebab tak boleh ada intervensi pemerintah," katanya kepada wartawan seusai upacara peringatan HUT Koperasi ke-66 di Kota Jayapura, Papua, Kamis, 18 Juli 2013.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Provinsi Papua, Sulaiman Hamzah mengatakan, dari 45 persen koperasi di Papua yang tak berjalan baik itu diharapkan pemerintahan yang baru di Papua ikut merawatnya. "Sehingga mereka bisa hidup kembali. Sebab hal itu untuk membangkitkan ekonomi rakyat Papua di kampung-kampung," katanya.

Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal mengatakan, tumbuhnya koperasi di Papua tentu menjadi kekuatan yang luar biasa. Sehingga, ia menyayangkan jika koperasi tak dimaksimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menjangkau kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.

Hanya saja yang jadi persoalan, kata Klemen, banyak sumber daya alam yang tersedia di kampung-kampung, tapi tak bisa dimanfaatkan akibat terkendala pada proses distribusi dan pemasaran. "Karena itu koperasi dapat berperan dalam mejembatani persoalan ini. Sehingga potensi yang ada di kampung dapat diberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Friday 19 July 2013

Hampir Separuh Koperasi di Papua Tak Aktif

TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini terdapat 2.483 koperasi yang ada di seluruh wilayah Provinsi Papua. Namun, hanya 1.460 koperasi yang aktif, sedangkan sisanya sebanyak 1.023 koperasi tidak aktif. Artinya, sekitar 45 persen koperasi di Papua tidak aktif dan perlu dibenahi agar tidak bubar dengan sendirinya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Papua, Kaleb Worembay berjanji koperasi yang membutuhkan bantuan akan segera ditangani. Secara umum, koperasi di Papua pertumbuhan dari aspek kuantitas meningkat, tapi yang bermasalah juga jumlahnya bertambah.

"Tugas pemerintah itu membina. Tapi kalau sudah tak memungkinkan lagi dibina, maka bisa saja koperasi bubar sendiri. Koperasi itu dibentuk masyarakat, sehingga mereka sendiri yang bubarkan. Sebab tak boleh ada intervensi pemerintah," katanya kepada wartawan seusai upacara peringatan HUT Koperasi ke-66 di Kota Jayapura, Papua, Kamis, 18 Juli 2013.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Provinsi Papua, Sulaiman Hamzah mengatakan, dari 45 persen koperasi di Papua yang tak berjalan baik itu diharapkan pemerintahan yang baru di Papua ikut merawatnya. "Sehingga mereka bisa hidup kembali. Sebab hal itu untuk membangkitkan ekonomi rakyat Papua di kampung-kampung," katanya.

Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal mengatakan, tumbuhnya koperasi di Papua tentu menjadi kekuatan yang luar biasa. Sehingga, ia menyayangkan jika koperasi tak dimaksimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menjangkau kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.

Hanya saja yang jadi persoalan, kata Klemen, banyak sumber daya alam yang tersedia di kampung-kampung, tapi tak bisa dimanfaatkan akibat terkendala pada proses distribusi dan pemasaran. "Karena itu koperasi dapat berperan dalam mejembatani persoalan ini. Sehingga potensi yang ada di kampung dapat diberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Hampir Separuh Koperasi di Papua Tak Aktif

TEMPO.CO [KAMIS, 18 JULI 2013 | 17:33 WIB], Jakarta - Saat ini terdapat 2.483 koperasi yang ada di seluruh wilayah Provinsi Papua. Namun, hanya 1.460 koperasi yang aktif, sedangkan sisanya sebanyak 1.023 koperasi tidak aktif. Artinya, sekitar 45 persen koperasi di Papua tidak aktif dan perlu dibenahi agar tidak bubar dengan sendirinya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Papua, Kaleb Worembay berjanji koperasi yang membutuhkan bantuan akan segera ditangani. Secara umum, koperasi di Papua pertumbuhan dari aspek kuantitas meningkat, tapi yang bermasalah juga jumlahnya bertambah.

"Tugas pemerintah itu membina. Tapi kalau sudah tak memungkinkan lagi dibina, maka bisa saja koperasi bubar sendiri. Koperasi itu dibentuk masyarakat, sehingga mereka sendiri yang bubarkan. Sebab tak boleh ada intervensi pemerintah," katanya kepada wartawan seusai upacara peringatan HUT Koperasi ke-66 di Kota Jayapura, Papua, Kamis, 18 Juli 2013.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Provinsi Papua, Sulaiman Hamzah mengatakan, dari 45 persen koperasi di Papua yang tak berjalan baik itu diharapkan pemerintahan yang baru di Papua ikut merawatnya. "Sehingga mereka bisa hidup kembali. Sebab hal itu untuk membangkitkan ekonomi rakyat Papua di kampung-kampung," katanya.

Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal mengatakan, tumbuhnya koperasi di Papua tentu menjadi kekuatan yang luar biasa. Sehingga, ia menyayangkan jika koperasi tak dimaksimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menjangkau kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.

Hanya saja yang jadi persoalan, kata Klemen, banyak sumber daya alam yang tersedia di kampung-kampung, tapi tak bisa dimanfaatkan akibat terkendala pada proses distribusi dan pemasaran. "Karena itu koperasi dapat berperan dalam mejembatani persoalan ini. Sehingga potensi yang ada di kampung dapat diberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Saturday 23 March 2013

874 Koperasi di Papua Tidak Aktif

Jum'at, 22 Maret 2013 06:23, BintangPapua.com

BIAK - Sebanyak 874 dari 2.580 koperasi di 29 Kabupaten/Kota se Provinsi Papua tidak aktif melakukan pelayanan kepada anggota sehingga terancam dicabut badan hukumnya.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan Usaha Kecil Menengah Papua Kaleb Worembai MM di Biak, Kamis mengakui, penyebab ratusan koperasi tidak aktif karena berbagai alasan, diantaranya pengurus tidak aktif, kurangnya sumber daya pengelola koperasi serta tidak adanya aktivitas organisasi.

"Untuk memberikan sanksi koperasi yang tidak aktif melakukan aktifitas pelayanan anggotanya berada di kepala dinas koperasi kabupaten/kota. Utuk tidak terkena pembekuan izin usaha koperasi harus diberikan pembinaan melalui Dinas Koperasi setempat," katanya seusai rapat koordinasi koperasi, perindustrian perdagangan usaha kecil menengah se Papua.

Kaleb mengakui, untuk membubarkan koperasi yang telah berbadan hukum berada di tangan anggota sehingga pihak Pemerintah melalui Dinas Koperasi usaha Kecil Menengah tetap memberikan pembinaan secara administrasi Ia menyebutkan, dari 2.580 koperasi di Papua hingga 2013 koperasi aktif 1.606 unit (62,25 persen) dan yang aktif melakukan rapat anggota tahunan sebanyak 213 unit (13,26 persen).

"Sebanyak 1.393 koperasi tersebar di 29 Kabupaten/Kota tidak melaksanakan rapat anggota tahunan," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Biak Numfor, Alimuddin Sabe mengharapkan, melalui rapat koordinasi koperasi perindustrian perdagangan usaha kecil menengah se Provinsi Papua dapat menyatukan langkah dan gerak menjalankan usaha perkoperasian di daerah paling Timur Indonesia.

"Pemerintah melalui Dinas Koperasi terus mengembangkan semangat kewirausahaan bagi perkembangan koperasi yang sehat, mandiri dan sejahtera," katanya di hadapan 100-peserta raker se Papua. (ant/achi/lo1)

Thursday 21 February 2013

6 Kabupaten Belum Miliki Unit Koperas

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah memaparkan perkembangan sebaran koperasi yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan angka yang bervariatif. Data yang dipresentasikan di depan sejumlah pejabat Bappeda se Papua dan Papua Barat 19/2/2013 di Sentani Kabupaten Jayapura terungkap di Provinsi Papua masih ada dua kabupaten yaitu Mamberamo Tengah dan Intan Jaya, sedang di Papua Barat ada empat kabupaten yaitu Raja Ampat, Teluk Bintuni, Tambrauw dan Maybrat, hingga November 2012 belum ada unit koperasi.

Ir. Wayan Suarja AR, MBA SAM Bidang Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dari 29 kabupaten yang ada di Provinsi Papua tercatat terbanyak ada di Kota Jayapura, yaitu sebanyak 335 koperasi. Urutan terbanyak kedua dan ketiga adalah Kabupaten Mimika, 307 Koperasi dan Kabupaten Merauke, 306 Koperasi. Total keseluruhan jumlah anggota di Provinsi Papua, terdapat 127.447 anggota.

Selengkapnya lihat tabel:

Sedang sebaran jumlah unit koperasi di Provinsi Papua Barat dari 11 kabupaten, tercatat terbanyak ada di Kabupaten Manokwari, yaitu sebanyak 299 koperasi. Urutan terbanyak kedua dan ketiga adalah Kabupaten Fak-fak, 175 Koperasi dan Kabupaten Sorong, 126 Koperasi. Total keseluruhan jumlah anggota di Provinsi Papua Barat, sebanyak 53.338 anggota.

Selengkapnya lihat tabel:

Alokasi program Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Provinsi Papua Tahun 2013 diantaranya: pengembangan koperasi di bidang makanan dan minuman, pengembangan bidang kakao, bantuan permodalan di pedesaaan dan perkotaan, pembangunan pasar di daerah tertinggal dan pasar tradisional, penataan pedagang kaki, pendidikan dan latihan.

Rencana Alokasi Kementerian Koperasi dan UKM di Provinsi Papua Tahun 2013
Selengkapnya lihat tabel:



Thursday 31 December 2009

Pemerintah Pusat Bantu Koperasi di Papua Rp 3,753 Miliar

[SBYKITA.wordpress.com] Pemerintah Pusat melalui Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam tahun anggaran 2006 mengalokasikan dana bantuan modal usaha bagi 40 usaha koperasi sebesar Rp 3,750 miliar di 14 kabupaten dalam wilayah Provinsi Papua.

Hal itu disampaikan, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Papua, Drs. Kaleb Worembai, MM, kepada ANTARA di Jayapura, Rabu.

Menurut Kaleb, bantuan tersebut merupakan realisasi dana bergulir program pembiayaan produktivitas koperasi dan usaha mikro pola konvesional dan syariah tahun anggaran 2006 di Papua.

Ke 14 kabupaten dan kota di Papua yang memperoleh bantuan langsung dari Kementerian Koperasi dan UKM itu masing-masing, Kota Jayapura sebanyak lima unit usaha koperasi memperoleh bantuan Rp 450 juta, Kabupaten Jayapura empat usaha koperasi sebesar Rp 350 juta.

Kabupaten Merauke enam unit usaha koperasi Rp 600 juta, Nabire, empat unit Rp 400 juta, Timika, dua unit koperasi Rp 200 juta, Jayawijaya tiga unit usaha Rp 250 juta, Paniai dua unit koperasi Rp 150 juta, Puncak Jaya dua unit sebesar Rp 200 juta.

Supiori dua Koperasi Unit Desa (KUD) Rp 200 juta, Yapen tiga unit usaha koperasi Rp 300 juta, Pegunungan Bintang tiga KUD Rp 250 juta, Mappi dua unit Rp 200 juta dan Kabupaten Boven Digul dua unit koperasi peran serta masyarakat (Kopermas) Rp 200 juta.

Lanjut Kaleb, dana tersebut tidak dialokasikan melalui Dinas koperasi di Provinsi, namun diberikan langsung melalui Kementerian Koperasi masuk ke rekening usaha masing-masing dikoperasi di daerah.

Pengalokasian dana itu untuk memperkuat modal usaha bagi usaha koperasi mikro di daerah yang selama ini mengeluh tentang modal dalam mengembangkan usahanya di segla bidang pembangunan yang ada di daerahnya masing-masing.

Kemauan para usaha koperasi mikro di Papua cukup tinggi, namun perlu penyertaan modal usaha yang memadai, agar kedepan koperasi usaha kecil dapat berkembang memajukan kesejahteraan anggota masyarakat yang ada di daerahnya.

Kaleb berharap, para penerima dana bantaun Kementerian Koperasi UKM, dapat mempergunakan dana tersebut secara baik, untuk kepentingan dan perkembangan usahanya lebih maju kedepan, jangan mengunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadi.

Bantaun langsung itu bukan sekedar diberikan cuma-cuma oleh Pemerintah Pusat, namun dipergunakan secara baik untuk pengembang koperasi kedepan.

Kaleb juga meminta kepada para Kepala Dinas Koperasi UKM di Kabupaten dan Kota yang menerima bantaun langsung itu, agar tetap melakukan mengawasan terhadap pengunaan dana tersebut, berdasarkan usulan yang diberitahukan kepada Pemerintah Pusat